← Topik
Budaya & etnis

Satu Pencipta, Banyak Wajah

Topik: Memanusiakan Manusia · ±8 menit

Tidak ada manusia yang memilih suku, bahasa, atau tanah kelahirannya sendiri. Semua itu diberikan — oleh Satu Pemberi yang sama. Lalu mengapa perbedaan yang diberikan itu sering kita jadikan alasan untuk merendahkan, bahkan memusuhi?

Berawal dari satu jiwa

Al-Qur'an membuka kisah kemanusiaan bukan dari banyaknya bangsa, melainkan dari satu jiwa:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.”
QS An-Nisa' 4:1

Perhatikan siapa yang diajak bicara ayat ini: ya ayyuhan nas — wahai manusia. Bukan “wahai orang Arab”, bukan “wahai bani fulan”. Seruan ini dialamatkan kepada seluruh keturunan satu jiwa itu, tanpa kecuali. Sebelum kita Jawa, Batak, Arab, Tionghoa, atau apa pun — kita manusia, dari satu asal. Etnis adalah cabang; kemanusiaan adalah akarnya.

Karena berasal dari satu, maka semua anak cucu Adam — apa pun warna kulit dan bahasanya — mendapat kemuliaan dasar yang sama dari Penciptanya:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”
QS Al-Isra' 17:70

Kemuliaan ini diberikan tanpa syarat etnis. Ia melekat pada kemanusiaan itu sendiri. Tidak ada satu pun bangsa yang bisa mengklaim monopoli kemuliaan, karena yang memuliakan adalah Allah — dan Dia memuliakan semuanya.

Budaya dan etnis: dari mana dan untuk apa?

Kalau semua berasal dari satu jiwa, dari mana datangnya keberagaman budaya dan etnis? Al-Qur'an menjawab: dari Allah sendiri, dan ia bukan kebetulan — ia tanda:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”
QS Ar-Rum 30:22

Ikhtilafu alsinatikum wa alwanikum — perbedaan bahasa dan warna kulit disebut dalam satu ayat bersama penciptaan langit dan bumi. Artinya: perbedaan antarmanusia adalah peristiwa kosmik, bukan kecelakaan sejarah. Ia disengaja, dan ia menunjukkan kekuasaan Pencipta yang mampu menciptakan keberagaman dari kesatuan. Semakin banyak bahasa dan warna yang kita saksikan, semakin luas tanda yang terbentang.

Maka budaya — bahasa, adat, makanan, cara berpakaian, seni — pada hakikatnya adalah cara sekelompok manusia menjawab kehidupan di tanah dan zaman mereka masing-masing. Ia adalah tafsir lokal atas fitrah manusia yang sama: semua manusia butuh makan, sehingga lahirlah ratusan resep; semua butuh bahasa, sehingga lahirlah ribuan tutur; semua butuh aturan hidup bersama, sehingga lahirlah adat yang beragam. Budaya bukan sesuatu yang memecah kemanusiaan; budaya adalah kekayaan cara manusia menjadi manusia. Masalahnya bukan pada keberagaman itu, tetapi pada sikap kita terhadapnya.

Ayat yang meruntuhkan rasisme

Tidak ada ayat yang lebih tegas meruntuhkan klaim keunggulan etnis selain firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
QS Al-Hujurat 49:13

Ayat ini bekerja di dua arah sekaligus. Pertama, ia mengakui keberadaan bangsa dan suku — syu'ub dan qaba'il — sebagai kenyataan yang Allah tetapkan, bukan untuk dihapuskan. Kedua, ia membatasi fungsi perbedaan itu: li ta'arafu, agar saling mengenal — bukan agar saling merendahkan. Dan yang paling penting di ujung ayat: satu-satunya ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah takwa, bukan darah, bukan tanah, bukan warna.

Di sini Al-Qur'an melakukan dua koreksi sekaligus terhadap dua ekstrem yang masih hidup sampai hari ini. Kepada yang ingin menghapus perbedaan — yang memaksa semua orang menjadi satu warna, satu bahasa, satu budaya — Al-Qur'an berkata: perbedaan itu ciptaan-Ku, bacalah tandanya. Kepada yang menjadikan perbedaan sebagai pangkat — yang merasa etnisnya lebih mulia dari etnis lain — Al-Qur'an berkata: yang mulia hanyalah yang bertakwa, dan takwa tidak diwariskan oleh darah.

Rasulullah ﷺ menegaskan ukuran yang sama dari sisi Allah:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”
HR Muslim no. 2564, dari Abu Hurairah

Allah “tidak melihat” rupa dan harta — bukan karena Dia tidak tahu, tetapi karena itu bukan ukuran-Nya. Ukuran-Nya adalah hati dan amal: apa yang kita sembunyikan di dalam, dan apa yang kita kerjakan untuk kebaikan. Seorang profesor dan seorang petani, seorang pejabat dan seorang pedagang kaki lima, berdiri sama rata di hadapan ukuran ini.

Mengapa Allah tidak menjadikan kita satu umat saja?

Ada satu pertanyaan lanjutan yang sering muncul: kalau perbedaan sering menjadi sumber konflik, mengapa Allah tidak menciptakan manusia seragam saja? Al-Qur'an menjawabnya dalam konteks keberagaman agama dan aturan hidup:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat saja, tetapi (Dia tidak berbuat demikian) untuk menguji kamu terhadap apa yang telah Dia berikan kepadamu. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.”
QS Al-Ma'idah 5:48

Keseragaman itu mungkin bagi Allah — lau sya'a Allah, kalau Dia kehendaki, pasti terjadi. Tapi Dia memilih keberagaman, dan menyebutnya ujian: mampukah kita hidup berdampingan dengan yang berbeda tanpa kehilangan prinsip, dan berlomba dalam kebaikan tanpa saling menjatuhkan? Jawaban atas ujian itu bukan dengan menghapus perbedaan, melainkan dengan menjadikannya panggung fastabiqul khairat — berlomba dalam kebaikan.

Karena itu, berbudaya dan beretnis bukanlah sesuatu yang harus dimusuhi oleh keimanan. Seorang Muslim boleh — bahkan sepantasnya — mencintai budayanya: bahasanya, tanahnya, adatnya yang baik. Yang dilarang adalah menjadikan budaya dan etnis sebagai tuhan kecil: sumber kebanggaan yang membutakan, alat merendahkan orang lain, atau pembenar permusuhan. Cinta budaya yang sehat justru sejalan dengan iman: ia membuat kita mengenal dan menghargai, tanpa pernah lupa bahwa di atas segala perbedaan ada satu Pencipta, satu asal, dan satu ukuran kemuliaan — takwa.

Merawat keberagaman, menjaga kesetaraan

Mari kita tutup dengan beberapa pegangan praktis untuk hidup di tengah masyarakat yang majemuk:

  • Kenali sebelum menilai. Tujuan perbedaan adalah ta'aruf — saling mengenal. Setiap konflik antarkelompok berawal dari orang yang menilai tanpa mengenal.
  • Turunkan derajat “kami” dan “mereka”. Dalam Al-Qur'an, yang abadi hanya dua: ya ayyuhan nas (manusia) dan al-muttaqun (yang bertakwa). Etnis itu konteks, bukan identitas terakhir.
  • Bela yang dizalimi, siapa pun dia. Keadilan dalam Al-Qur'an tidak mengenal suku: “Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil” (QS Al-Ma'idah 5:8).
  • Pertahankan budaya yang baik, tinggalkan yang bertentangan dengan akidah. Warisan leluhur yang selaras dengan fitrah dirawat dengan bangga; yang bertabrakan dengan tauhid dilepas dengan adab.

Pada akhirnya, inilah visi Satu Sumbu untuk topik ini: satu Pencipta, satu asal, satu ukuran kemuliaan — dan di antaranya, banyak wajah yang saling mengenal. Ketika kesadaran ini hidup, perbedaan tidak lagi menakutkan. Ia menjadi undangan untuk belajar, alasan untuk bersyukur, dan panggung tempat kebaikan dipertandingkan — bukan tempat kesombongan dipertontonkan.

Lanjutan. Bagaimana mencintai tanah air tanpa merendahkan bangsa lain, dan di mana garis antara tradisi leluhur dan akidah — sedang disusun di halaman Topik.